ADI PARWA BAB 18

Standar

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Bali adalah pulau dewata yang terkenal dengan kebudayaan yang tetap dijaga dan dilestarikan oleh masyarakatnya. Kebudayaan yang dimiliki pun beragam bentuknya. Ada berupa kesenian seperti seni tari, seni suara, seni lukis , seni rupa dan lain-lain. Ada juga berupa karya-karya satra baik karya sastra tradisional maupun karya sastra modern.
Karya sastra tradisional hingga kini masih banyak diminati untuk dipelajari oleh masyarakat, karena dalam karya sastra tradisional tersebut banyak mengandung nilai-nilai didalamnya sebagai pedoman kehidupan.
Jenis karya sastra tradisional ada yang berupa puisi maupun prosa. Dalam masyarakat Bali puisi tradisional disebut dengan puisi Bali purwa sedangkan prosa tradisional disebut prosa Bali purwa. Puisi Bali purwa yaitu berupa geguritan, pupuh, kakawin, kidung. Sedangkan prosa Bali purwa berupa cerita-cerita masyarakat Bali ada yang disebut parwa, kanda, dan lain sebagainya.
Parwa sebagai karya sastra yang dapat dikatan sangat terkenal di Bali. Parwa merupakan karya sastra yang menceritakan tentang cerita Mahabrata yang sangat terkenal didunia. Parwa ini terdiri dari 18 parwa disebut dengan Asta Dasa Parwa (18 parwa). Salah satu bagian parwa itu adalah Adi Parwa. Adi Parwa adalah cerita awal dalam Mahabarata, atau parwa yang pertama. Dalam Adi parwa terdapat beberapa BAB didalamnya. Seperti yang akan di bahas pada makalah ini yaitu BAB 18 tentang kesetiaan dan ketekunan seorang Ekalawya dalam menuntut ilmu meski tidak belajar dengan gurunya.
Dari cerita tersebut banyak berisi nilai-nilai yang dapat dijadikan panutan dalam kehidupan ini. Menarik juga untuk dianalisis tentang struktur dalam cerita parwa tersebut. Struktur-struktur yang terkandung yaitu latar, tokoh, amat, serta tema dalam cerita itu.
Berdasarkan latar belakang tersebut kali ini penulis mencoba menganalisis nilai dan Struktur cerita parwa BAB 18 dan penulis mengangkat judul “Analisis Adi Parwa BAB 18 Ekalawya Golongan Nisada”.
I.2 Rumusan Masalah
1.2.1    Nilai-nilai apa sajakah yang terkandung dalam cerita yang berjudul “Adi Parwa BAB 18 Ekalawya Golongan Nisada”?
1.2.2     Bagaimanakah unsur instrinsik yang terdapat dalam “Adi Parwa BAB 18 Ekalawya Golongan Nisada”
I.3 Tujuan
Tujuan penulisan karya ilmiah yang berjudul “Adi Parwa BAB 18 Ekalawya Golongan Nisada” yaitu untuk mengetahui nilai-nilai apa saja yang terkandung dalam parwa tersebut dan agar diketahui pula unsur-unsur instrinsik yang terdapat dalam parwa tersebut.
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Nilai
Menurut Kuntjara Ninggrat, banyak karya sastra mengandung nilai budaya.
Sedangkan menurut Yudiabrata (1982 : 104) nilai merupakan tingkat kebaikan, kebajikan, dan kegunaan yang dimiliki oleh sesuatu. Suatu nilai mungkin diturunkan dari persepsi sseseorang dari suatu yang luhur, manusiawi, bermutu dan mulia. Ada 4 sistem nilai yaitu :
a.    Nilai Agama
Nilai Agama meliputi : Nilai religious, magis kepercayaan, dan nlai spiritual.
b.    Nilai logika
Nilai Logika meliputi : nilai intelektual, ilmiah, dan empiris
c.    Nilai Etika
Nilai etika meliputi nilai moral, sopan santun, manusiawi, etis dan lain-lain.
d.    Nilai Etika
Nilai etika meliputi : nilai keindahan keseimbangan, keagungan, keasrian.

2.2    Struktur instrinsik
Struktur instrinsik dalam karya sastra terdiri dari:
a.    Alur
Alur merupakan suatu jalinan cerita bagaimana pengarang menyusun cerita-cerita itu sebab dan akibat hendaknya logis (Hutagalung, 1967 : 12).
Alur berdasarkan susunannya dibedakan menjadi : alur lurus, alur sorot balik, alur gabungan.

b.    Latar
Latar merupakan tempat dan waktu terjadinya cerita. Terdapat lukisan-luksan peristiwa atau eksiden yang dilakukan oleh tokoh dalam waktu atau tempat tertentu (Suharianto, 1982: 32)
c.    Tokoh
Tokoh adalah gambaran tentang seseorang mengenai fisik dan psikologi. Dalam analisis tooh, pembaca menafsirkan melalui ucapan, tidakan serta dialog. Tokoh biasanya terdiri dari tokoh utama dan tokoh antagonis. Selain itu ada juga tokoh sapingan.
d.    Amanat
Amanat merupakan pemecahan dari tema. Amanat itu keseluruhan dialog dan tindakan tokoh. Kesan-kesan amanat biasanya berbeda bagi setiap pembaca.
e.    Tema
Tema merupakan gagasan ide, pikiran utama dalam karya sastra yang di ungkapkan ataupun tidak. Tema biasanya merupakan persoalan dalam karya sastra. Cara untuk mencari tema adalah suatu yang disampaikan dalam masalah kehidupan, pandangan hidup atau komentar tentang kehidupan yang tersembunyi dalam karya sastra itu yang harus dicari oleh pembaca sendiri. Kadang-kadang judul karya sastra langsung menjadi tema.

BAB III
ANALISIS

ADI PARWA BAB 18
EKALAWYA GOLONGAN NISADA

Pada suatu hari datanglah kepada Drona seorang anak laki-laki yang berkulit hitam. Dia datang mendekati sang guru saat tidak ada orang disekitarnya. Dia berlutut dikaki brahmana yang besar itu. Katanya “Guruku aku datang padamu untuk mempelajari ilmu panah. Terimalah aku menjadi muridmu.”
Drona menyukai tingkah lakunya. Dia menoleh kepadanya dengan ramah tamah dan berkata, “Siapa engkau?”
Anak muda itu menjawab, “Aku adalah Ekalawya, aku adalah putra Hiranyadanus, raja golongan Nisada.”
Drona tidak menerimanya menjadi muridnya karena dia bukan seorang ksatrya tetapi golongan Nisada. Dia berkata kepadanya dengan lemah lembut, “anaku sayang, aku tidak dapat mengambil engkau menjadi muridku.”
Karena kecewa dan putus asa, pemuda nisada itu kembali kehutan dari mana dia datang. Dia tidak menanggung perasaan buruk kepada Drona, tetapi tidak bahagia.
Setibanya di hutan dia membuat sebuah patung Drona dari tanah liat. Dia menyebut patung ini sebagai simbol Gurunya. Tiap hari dia menyembah patung ini, dan kemudian berlatih memainkan busur.
Dalam waktu yang singkat dia sanggup mempelajari ilmu panah memanah. Yang demikian itu adalah magnetis dari suara keinginan hati. Semua pikiran sadar atau tidak sadar seseorang di tarik kearah suatu keinginan ini dan semua perbuatan seseorang adalah gema dari sura keinginan ini. Ekalawya pun demikian. Kecintaannya terhadap hal panah memanah dan kecintaanya kepada guru yang menolaknya mengambil sebagai murid dan bukan karena dia tidak mau, tetapi karena dia tidak bisa. Dua kecintaan ini membuat dia mengkonsentrasikan pikiranya tentang panah memanah saja. Dia ingin menguasai seni itu. Segeralah dia mahir dalam seni itu.
Pada suatu hari pangeran-pangeran kuru dan pandawa pergi ke hutan untuk berpiknik. Para pandawa membawa seekor anjing. Anjing itu menelusuri hingga jauh ke tengah hutan. Dia datang sampai ketempat Ekalawya. Ekalawya mengenakan pakaian yang terbuat dari kulit macan tutul dan juga dia berjalan seperti macan tutul. Anjing itu menganggap bahwa itu adalah seekor binatang dan mulai menggonggong dengan garangnya. Ekalawya suku Nisada itu, karena tidak dapat menahan gangguan itu, lalu menutup mulut anjing itu dengan anak panah. Muka anjing itu tertutup dengan panah. Tujuh anak panah itu telah terselimpat dan terjalin sangat rapi sehingga anjing itu tidak dapat membuka mulutnya. Anjing itu lari dan sampai ketempat para Pandawa. Apa yang terjadi pada mulut anjing itu membuat kagum semua orang. Drona dan murid-muridnya mengagumi panahan ahli panah yang tidak dikenal itu. Beberapa orang dari mereka pergi menyelidiki orang yang tidak dikenal itu. Akhirnya mereka menjumpainya mereka bertanya kepadanya siapa dia.
Katanya, “aku adalah Ekalawya, putera Hiranyadanus, raja suku bangsa Nisada.” Pada waktu mereka menanyakan bagaimana dia dapat bekerja dengan sangat mengagumkan dengan busur dan anak-anak panahnya, Ekalawya tersenyum bangga dan berkata, “itu karena aku adalah murid guru besar Drona”.
Mereka kembali ke kemah dan menceritaka kepada Drona tentang hal tersebut. Arjuna kesayangan Drona, merasa tidak senang dengan keadaan ini. Dia pergi kepada gurunya dan berkata, “engkau telah berjanji kepada ku bahwa engkau akan menjadikan aku sebagai ahli panah yang terbesar didunia. Sekarang engkau telah memberikan janji itu kepada orang lain. Sebenarnya dia telah menjadi ahli panah terbesar didunia.”
Drona pergi dengan Arjuna untuk melihat Ekalawya. Dia tidak ingat sama sekali kepadanya. Dia menjumpainya dalam pakaian kulit macan tutul. Dia berdiri dengan busur dan anak panahnya. Ekalawya melihat gurunya, dia terburu-buru berlari dan berlutut dikaki Drona. Air matanya mambasahi kaki guru yang dicintainya. Hati Drona tertambat olehnya. Drona bertanya kapan dia menjadi murid Drona.
Ekalawya sangat bahagia menceritakan seluruh sejarahnya kapada gurunya. Dia tidak membuat-buat dan tidak berpura-pura sehingga Drona tidak tahan dengan kasih sayangnya terhadap anak itu. Ekalawya bahkan tidak menyadari bahwa dia sudah menjadi pemanah besar. Drona berfikir-fikir sebentar dan dengan terpaksa sekali dia berkata, “engkau berkata bahwa engkau menjadi muridku. Itu benar, tetapi aku harus meminta hadiah darimu.” “tentu!” kata Ekalawya. “akan menjadi kehormatanku kalau guru meminta.” Drona melihat muka Arjuna yang tak menaruh kasihan. Dia berkata, “aku menghendaki ibu jarimu. Ibu jari tangan kanan mu”. Tak sedikitpun terlihat keluhan dibibir Ekalawya. Dia tesenyum dan berkata. “aku bahagia memberikan guruku hadiah ini imbalan ilmuku yang aku pelajari darimu. Inilah.”
Dia memotong ibu jari tangan kanannya yang membentuk anak panah dan meletakkan jari yang berdarah yang telah di potong itu di kaki gurunya yang di cintainya itu.
Drona menerimanya. Arjuna merasa bahagia. Tidak ada lagi yang harus dikatakan dan dikerjakan semua sudah selesai. Ekalawya jatuh ke kaki gurunya dan memberi hormat kepadanya. Dia mengucapkan selamat jalan kepada gurunya. Drona dan Arjuna pulang kembali dengan diam-diam ke kemah.

STRUKTUR PARWA DI ATAS
1.    Tema
Tema dalam cerita di atas yaitu “Ketekunan dan Kesetiaan seorang Murid”
2.    Alur
Alur yang dipakai adalah alur lurus
3.    Latar
Latar tempat dalam  cerita diatas yaitu di hutan. Waktunya dapat di perkirakan yaitu pada siang hari ketika para pandawa dan Korawa sedang berburu.
4.    Tokoh
a.    Drona : Guru dari Pandawa dan Korawa, yang memiliki sifat yang luhur dan pengasih.
b.    Ekalawya : Sangat setia terhadap gurunya, rajin dan tekun, serta rela berkorban
c.    Arjuna : memiliki sifat yang iri. Ia takut tersaingi oleh Ekalawya.
d.    Keluarga Pandawa dan Korawa : sebagai pendukung dalam cerita
5.    Amanat
Amanat yang terkandung dalam cerita di atas yaitu maka kita haruslah belajar dengan tekun dan dengan rasa cinta melakukan hal tersebut maka niscaya apa yang kita cita-citakan atau yang kita inginkan akan tercapai. Serta kita haruslah berbakti kepada guru sebab ia yang memberikan pendidikan kepada kita baik secara lagsung maupun tidak langsung.

NILAI-NILAI YANG TERKANDUNG DALAM CERITA DIATAS:
a)    Nilai Agama (religius)
Dalam cerita tersebut terdapat nilai religius yaitu ketika Ekalawya bersedih karena tidak diterima menjadi murid oleh Drona. Ekalawya membuat patung Drona dari tanah liat. Patung tersebut disembah dan diyakini sebagai Drona yang menyaksikan ia latihan memanah.
b)    Nilai Logika (pendidikan)
Dari cerita diatas dapat di ambil unsur pendidikannya yaitu kita sebagai manusia terutama orang yang ingin menuntut ilmu haruslah belajar dengan tekun dan sungguh-sungguh serta memiliki keinginan yang kuat untuk meraih apa yang dicita-citakan. Sama halnya dengan yang dilakukan dalam penokohan  Ekalawya. Karena ketekunan dan kecintaannya tentang panah memanah meski hanya belajar didmpingi oleh patung guru yang di pujanya, ia mampu menguasai ilmu memanah dan ia pun mahir dalam seni panah tersebut. Meskipun ia telah menjadi ahli memanah yang besar, ia tetap belajar hingga apa yang diinginkannya terpenuhi.
c)    Nilai Etika
Tingkat kesopan santunan dalam cerita Ekalawya diatas sangat tinggi. Dari awal cerita telah ditunjukan kesopanan Ekalawya ketika mendekati Drona dan memberi hormat kepada Drona serta menggunakan kata-kata yang sopan saat menyembah guru Drona. Demikian pula dengan Drona ia dengan ramah-tamah berkata kepada Ekalawya meski ia tidak menerima Ekalawya menjadi muridnya.
Ekalawya tidak pernah menanggung perasaan buruk kepada Drona meski tidak di terima menjadi muridnya.
Ekalawya tetap menghormati gurunya. Hal ini ditunjukan ketika Drona datang bersama Arjuna, Ekalawya bersujud dikaki guru Drona. Dan ia mau memberikan hadiah yang di minta oleh gurunya yaitu ibu jari tangan kanannya. Hal tersebut merupakan rasa terimakasih dan persembahan yang diberikan untuk guru yang dicintainya.
d)    Nilai Estetika
Nilai estetika yang terkandung didalam ceriata diatas yaitu keagungan nama seorang Ekalawya yang setia dan teguh akan pendiriannya untuk belajar ilmu memanah. Meski harus mengorbankan ibu jarinya yang merupakan susuatu yang berharga bagi seorang pemanah, ia tetap menyerahkan demi penghormatanya kepada gurunya yaitu guru Drona.

BAB IV
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari cerita diatas dapat diambil kesimpulan yaitu dalam cerita-cerita parwa banyak mengandung nilai-nilai yang dapat kita ambil sebagai panutan dalam hidup. Seperti cerita yang di bahas di atas. Kita dapat mengambil hikmahnya sebagai bekal hidup.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s